RSS

Pragmatisme Dakwah; Antara Pendekatan Tekstual dan Kontekstual

23 Aug

Bismillah…

Pragmatisme merupakan salah satu istilah yang asing bagi masyarakat namun realitasnya sangat mendominasi kehidupan masyarakat kita. Seringkali kita dengan ungkapan ”kita mesti realistis!” atau ungkapan ”jamane jaman edan, yen ora edan ora keduman” (zamannya zaman gila, kalau tidak ikut2 gila tidak kebagian) yang lebih parah bahkan diantara mahasiswa aktivis pergerakan mulai lancar melafalkan ”idealisme telah mati, pragmatisme adalah kebutuhan zaman.” Sepintas kalimat tersebut terasa ringan diucapkan, namun memiliki pengaruh yang sangat mendasar.” />

Pragmatisme berasal dari bahasa yunani pragma berarti perbuatan (action) atau tindakan (practise). Isme berarti ajaran, aliran, paham. Dengan demikian, pragmatisme berarti ajaran/aliran/paham yang menekankan bahwa pemikiran itu mengikuti tindakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pragmatisme berarti kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham/doktrin/gagasan/pernyataan/dsb) bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia. Sedangkan pragmatis berarti bersifat praktis dan berguna bagi umum, bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan), mengenai/bersangkutan dengan nilai-nilai praktis. Karena itu, pragmatisme mandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faedah atau manfaat. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar jika membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar jika berfungsi. Jadi, pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran. untuk urusan dakwah hal ini sudah tidak diragukan lagi karena sudah barang tentu bahwa dakwah merupakan sebuah kebenaran.

Karakteristik pertama dari dakwah Islam secara umum adalah ketidakterjebakan dalam memahami dua landasan fundamental islami (al-Qur’ân dan al-hadits), yang selama ini dipahami hanya melalui pendekatan tekstual, atau kontekstual semata, terkait relevansi kedua pedoman hidup Muslim tersebut dengan konteks keindonesiaan saaat ini.

Karakteristik ini dibutuhkan, karena pendekatan yang hanya didasarkan pada pemahaman tekstual tanpa menyertakan konteks ruang dan waktu, akan menyebabkan rigiditas dalam berinteraksi dengan perkembangan zaman yang selalu berubah. Pemahaman terhadap realitas, yaitu kenyataan bahwa peradaban dan daya nalar manusia senantiasa berkembang, semestinya menjadi perhatian daripada sekadar memahami landasan fundamental islami tanpa menyertakan kontekstualisasinya.

Tentunya sangat disadari bahwa dakwah tidak hanya berada pada masyarakat umum tapi dakwah juga sangat erat kaitannya dengan kampus. Maka oleh karena itu dalam hal kontekstual, akan coba dikaitkan dengan Dakwah kampus. Dakwah kampus terus berkembang hingga saat ini, diawali dengan pengorbanan yang luar biasa dari para pendahulu kampus di negeri ini. Di tengah keterbatasan aturan di masa terdahulu, di saat kesulitan fasilitas di tahun-tahun yang dilewati, hampir seluruh pendahulu dakwah kampus ini mampu mempertahankan visi besar mereka hingga kita menikmati apa yang saat ini ada. Karena barangkali, kita adalah bagian dari visi besar mereka. Kita tak memungkiri bahwa segala kemudahan yang ada seringkali membuat kita menjadi seseorang yang berpikir pragmatis, berorientasi jangka pendek, kepatuhan terhadap qiyadah yang mulai luntur, trend lulus cepat dikarenakan biaya kuliyah yang mahal belum lagi tuntutan dari orang tua yang punya frame pemikiran yang berbeda terhadap dakwah ini ditambah lagi dengan kesolidan yang kian hari kian menjadi barang langka serta Ke-ekslusifkan kader yang mungkin sudah mengakarkan pun selalu jadi bahasan. Mahasiswa sebagai agent of change, tak tampak lagi gregetnya. Mereka yang dulu menjadi orang-orang yang berada pada garda terdepan menginisisasi dan mengawal perubahan, kini tak lagi hadir dalam poros yang sebenarnya bahkan ada kesan keberadaan mereka yang katanya sebagai ‘pengawal perubahan’ itu, hanya letupan semangat sesaat. Labil, cepat redup, dan bergerak jika ada arahan. Idealisme hanya tertuang dalam kata, namun tidak hadir dalam realita. Tentu hal ini menjadi evalusi bersama, apakah kondisi seperti ini akan terus dibiarkan???. Maka cukuplah firman-Nya dalam QS. Al-Mujadallah [58]: 11 dan QS.Ash-Shaff [61]: 2-3, menjadi renungan bersama. Semoga kita semakin yakin terhadap janji-Nya, dengan bersegera meluruskan niat, mengokohkan barisan, dan mempercepat langkah agar Ideologi Islam kembali memimpin umat ini, khususnya para intelektual kampus – dalam waktu dekat, insyaAllah. Salam ukhuwah, Salam perjuangan!

Wallahu’alam Bishowab.

izzah_insyirah89 (Kamis, 07 April 2011 @11.51 pm)

 
Leave a comment

Posted by on August 23, 2011 in Al Islam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: